SUMBER, (CNC).- Guna mengantisipasi pergerakan masa yang akan menuju Jakarta guna mengikuti acara pelantikan presiden yang dilakuakan pada hari ini, (Senin, 20/10), jajaran kepolisian deri Polres Cirebon, mulai memperketat perbatasan yang akan masuk dan keluar wilayah Cirebon. Hal tersebut disampaikan oleh AKBP Chiko Ardwiatto, usai menjadi piminan apel kesiapan pengaman dalam rangka pengaman dan pengambilan sumpah/janji Presiden dan Wakil Presiden terpilih, di Halaman Mapolres Cirebon, Minggu (19/10).

“Antisipasi kita, dalam menghadapi kegiatan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden, adalah melakukan kegiatan penyekatan di beberapa titik khusunya pintu masuk yakni di perbatasan Jawa Barat dan Jawa tengah yakni di daerah Losari, dan juga pintu keluar yakni di daerah Susukan yang berbatasan dengan wilayah Indramayu,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi ganguan kantibmas dalam pelaksanaan pelantikan Presiden dan wakil Presiden di Wilayah hukum Polres Cirebon, menurut Kapolres, pihaknya sudah menyiapkan sedikitnya 700 personil dari kepolisan ditambah dari satuan Samping seperti Brimob dan juga TNI.

Disinggung mengenai adanya pergerakan masa dari Cirebon menuju Jakarta guna menghadiri acara pelantikan Presiden dan Wakil Presiden, diakui Kapolres, ada beberapa orang yang akan berangkat ke Jakarta, namun itu hanya sebatas petinggi partai politik yang memang di undang untuk menghadiri acara pelantikan tersebut.

“Yang akan berangkan mungkin hanya ketua DPC dan sejumlah kader partai, namun untuk masa dalam jumlah besar, saya kira belum ada dan jangan sampai ada, karena Jakarta sudah sangat padat sekali,” katanya.

Jelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden yang akan dilakukan di Gedung DPR/MPR-RI nanti, dipastikan situasi kantibmas di wilayah hukum Cirebon, menurut Kapolres, masih dalam keadaan kondisif. “Dari hasil laporan baik dari Satuan ditingkat Kecamatan maupun Desa/kelurahan belum ada potensi kearah ganguan kantibmas,” tambahnya. (Adk/CNC)

WERU, (CNC).- Dua orang pemuda yang kedapatan membawa senjata tajam jenis clurit diamankan pihak kepolisan dari Polsek Weru, Polres Cirebon, dalam razia kendaraan yang dilakukan rutin setiap malam minggu di depan Mapolsek Weru, Sabtu (18/10) sekitar pukul 22.00 Wib.

Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, kedua pemuda yang diketahui berinisial S (17) dan EF (18) keduanya adalah warga Kecamatan Arjawinangun Kabupaten Cirebon.

Kedua pemuda yang sepulang dari menonton konser salah satu bend Ibu Kota yang dilaksanakan di Kota Cirebon tersebut, diketahui sengaja membawa sajam tersebut dari rumahnya. Petugas kepolisan gabungan dari beberapa polsek yang berada di zona tengah yang sedang melakukan razia rutin pun kemudian mengamankan dua pemuda dan juga barang bukti berupa senjata tajam dan juga kendaraan yang dibawa oleh kedua pelaku tersebut.

Dalam razia yang dilakukan selama kurang lebih 3 jam tersebut selain mengamankan senjata tajam, petugas pun mengamankan minuman tradisional berupa minuman Tuak yang di bungkus di plastik dan aqua Botol dari tangan 3 pemuda pemuda yang hendak melakukan pesta minuman Keras setelah pulang dari tontonan Konser. Mereka bertiga didata dan diberikan pengarahan, kemudian dilakukan pemanggilan dan membuat surat perjanjian tidak mengulangi lagi perbuatanya.

Kapolres Cirebon Kabupaten AKBP Chiko Ardwiatto melalui Kapolsek Weru Kompol H. Suyono mengatakan bahwa gita Razia kendaraan Rutin setiap malam minggu ini dalam Rangka Cipta kondisi menjelang Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden.

“Kami melakukan Razia berdasarkan perintah atasan untuk melakukan antisipasi menjelang pelantikan presiden, dan juga kebetulan malam ini bertepatan adanya Konser diwilayah Kota Cirebon, kami melakukannya untuk mengantisipasi terjadinya kekeributan dijalanan,” ujarnya kepada awak media.

Dalam razia tersbut diakui Kapolsek, pihak nya berhasil mengamankan satu buah clurit dari tangan dua pemuda yang diduga akan digunakan dalam aksi kerusuhan dalam konser tersebut. “Pemilik dari sajam ini akan kami kenakan Pasal 2 ayat (1) UU Darurat,” tegasnya. (Adk/CNC)

DEPOK, (CNC).- Dede Rosadi (52) warga Desa Penongan Kecamatan Palimanan Kabupaten Cirebon, yang mengaku sebagai pensunan dari PT Pertamina di Karawang, diamankan pihak kepolisan dari Polsek Depok, Polres Cirebon, karena dituding telah melakukan penipuan terhadap sejumlah warga di Kecamatan Plumbon dan Kecamatan Klangenan, Jumat (17/10).

Kepada awak media saat ekspos yang dilakukan di Polsek Depok, Dede mengakui kalau dirinya sudah menipu 3 orang warga Kecamatan Plumbon dan 2 orang warga kecamatan Klangenan dengan dijanjikan akan bekerja di salah satu perusahaan BUMN di beberapa kota di Jawa Barat.

“Awalnya saya menghubungi korban melalui telphon, setelah korban yakin, baru saya ketemu dengan korban dan meminta sejumlah uang tergantung posisi yang akan dilamar oleh korban,” ucapnya.

Dikatakan Dede, unutuk posisi pekerjaan sebagai sopir, dirinya meminta uang kepada korbannya sebesar Rp 3.5 Juta, sedangkan korban yang akan melamar sebagai karyawan tetap akan dikenakan tarif sebesar Rp 5.5 Juta sedangkan untuk ketua kelompok pemborong, dirinya member tariff sebesar Rp 15.5 Juta. “Seluruh uang yang saya dapatkan dari 5 orang tersebut sekitar Rp 38 Juta, dan uang nya sudah saya belanjakan untuk kepentingan sehari-hari,” ucap bapak yang memiliki 3 orang anak tersebut.

Sementara itu, Kapores Cirebon AKBP Chiko Dwiatto melalui Kapolsek Depok AKP Sobiri, membenarkan adananya penangkapan pelaku penipuan tenaga kerja tersebut. Tersangka melakukan aksinya antara bulan Juli-September 2014.

“Pelaku menjanjikan kepada korbannya bisa memasukan kerja ke salah satu perusahaan BUMN, dan untuk korban yang ada diwilayah hukum Polsek Depok ini ada sekitar 3 orang dengan kerugian sekitar Rp 40 juta,” ucapnya kepada awak media.

Modus dari pelaku menurut Sobirin, menawarkan pekerjaan kepada korbannya ke salah satu perusahaan BUMN, dengan diiming-imingi gaji yang cukup besar yakni antara Rp 4-7 Juta/Bulan. “Untuk meyakinkan korbannya, pelaku juga memalsukan surat-surat dari BUMN yang akan dijadikan tempat kerja oleh korbannya,” katanya.

Tersangka menurut Sobirin akan dikenakan dengan pasal 378 KUHP dengan ancaman hukuman selama 4 tahun kurungan. “Untuk korban dari aksi penipuan yang dilakukan pelaku ini cukup banyak, tidak hanya di wilayah hukum polsek Depok saja,” tambahnya. (Adk/CNC)

PLUMBON, (CNC).- Acara safari Kamtibmas yang dilakukan Kapolres Cirebon AKBP Chiko Ardwiatto beserta jajaran dengan tokoh masyarakat, agama dan pemuda dari Kecamatan Depok dan Plumbon, yang dilakukan di GOR Desa Kebarepan Kecamatan Plumbon, banyak sekali kritikan dari masyarakat, di dua kecamatan tersebut, Selasa (14/10).

Bentuk ktitikan dari masyarakat tersebut bermacam-macam, dari mulai pelayanan terhadap masyarakat yang lamban, marak nya peredaran miras dan penyakit masyarakat lainnya, bahkan ada juga masyarkat yang mengadu kepada Kapolres, kalau ada oknum anggota polisi yang masih suka mabuk-mabukan.

Menggapi keluhan masyarakat tersebut, Kapolres Cirebon mengatakan, Polisi adalah manusia, dan juga yang melanggar aturan yang ada, dan yang melanggar ini adalah oknum. Y ang mana dalam kepolisian ada seksi Propam yang bertugas untuk melakukan penindakan terhadap polisi-polisi yang melakukan pelanggaran.

“Informasi dari masyarakat ini sangat bermanfaat sekali, dan akan kami akan sampaikan kepada anggota untuk tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak terpuji, yang berdampak kepada tidak percayanya masyarakat kepada pihak kepolisian,” ungkap Kapolres Kepada awak media, usai acara tersebut.

Dikatakan Kapolres, Polisi boleh malakukan kegiatan-kegiatan yang dianggap tidak terpuji dengan catatan sedang tidak melakukan dinas, namun kalau pada saat jam dinas dan tujuan penyidikan itu yang akan jadi masalah dan hal tersebut tidak boleh dilakukan oleh anggota Polisi.

Disinggung mengenai masih banyaknya anggota Geng motor yang melakukan aksi mengancam masyarakat, Kapolres mengatakan, pihaknya akan melakukan tindakan tegas dan juga tidak akan memberikan peluang terhadap geng motor untuk melakukan aksi teror atau yang bersifat anarkis kepada masyarakat.

“Penindakan terhadap geng motor ini bertahap dari mulai pencegahan, dan apa bila dalam pelaksanan nya geng motor ini melawan petugas, maka kita akan melakukan tindakan tegas,” tandasnya.

Sementara itu, Camat Plumbon, Dedi Susilo mengatakan, untuk mengatasi beberapa permasalahan kantibmas di wilayah nya, pihak nya akan segera melakukan kordinasi dengan perangkat desa untuk meminimalisir ganguan kantibmas yang ada di daerahnya masing-masing. “Kita hanya berupaya untuk mencegah, bukan untuk menindak, karena kewenangan penindakan ada di tangan pihak kepolisian,” pangkasnya. (Adk/CNC)

SUMBER, (CNC).- Seluruh Jajaran perwirah menengah dan juga perwira pertama, di lingkungan Polres Cirebon, menjalani tes urine, yang dilakukan serentak usai pelaksanaan apel pagi di Mapolres Cirebon di Jl Dewi Sartika No 1 Sumber Cirebon, Selasa (14/10).

Kapolres Cirebon AKBP Chiko Ardwiatto mengatakan, tes urin yang dilakukan ini sengaja dilakukan secara mendadak, dan tes urine ini adalah sebagai salah satu upaya untuk penertiban dilingkungan Polres Cirebon yang dimulai dari perwira tingkat menengah hingga perwira tingkat pertama. “Hasil dari tes urine ini akan menjadi acuan saya untuk melakukan tindak lanjut, khususnya penindakan terhadap anggota yang terlibat dalam penggunaan narkoba,” katanya.

Hasil tes urin ini menurut Kapolres, baru akan diketahui setelah mendapat laporan dari Laboratorium kesehatan daerah (Labkesda). “Saya lakukan tes urin ini adalah sebagai langkah prefentif, jangan sampai ke bablasan, kalau tidak dilakukan secara mendadak nanti tidak aka nada efek jera kepada anggota kepolisian yang mungkin masih atau pernah menggunakan Narkoba,” ujarnya.

Kalau ditemukan perwira yang positif menggunakan Narkoba dalam tes urine tersebut, dikatakan Kapolres, pihak nya akan memberikan sangsi disiplin dan juga sangsi jode etik kepada perwira yang terbukti tersebut. “pemberian disipilin dan juga kode etik akan kita sesuaikan dengan aturan yang berlaku sesuai dengan perkap no 44,” tandasnya. (Adk/CNC)

WERU, (CNC).- Sebuah kendaraan dinas milik Pemerintah Kabupaten Majalengka dengan plat yang telah berganti menjadi hitam terjaring razia yang dilakukan Polres Cirebon dan beberapa Polsek di wilayah tengah yang dilakukan di depan Mapolsek Weru, Sabtu (11/10) sekitar pukul 22.00 Wib.

Rajia tersebut juga selain menjaring kendaraan dinas, juga berhasil mengamankan puluhan kendaraan roda dua yang tidak dilengkapi dengan surat-surat kendaraan, dan juga yang menggunakan kenalpot yang tidak setandar.

Selain mengamankan puluhan kendaraan, dalam razia tersebut juga ditemukan pengendara yang kedapatan membawa pil jenis trihex sebanyak dua butir, pengendara atas nama AP (16) warga Kota Cirebon itu pun langsung diamankan pihak kepolisian dari Unit Reserse dan Kriminal Polsek Weru untuk dilakukan pemeriksaan.

Kapolres Cirebon AKBP Chiko Ardwiatto mengatakan, operasi multi sasaran ini dilakukan pihaknya untuk mengantisipasi tindak kriminalitas, peredaran narkoba dan juga penyakit masyarkat lainnya. “Tujuan dari oprasi multi sasaran ini adalah untuk menekan tingkat kriminalitas yang saat ini dinilai cukup tinggi di wilayah Polres Cirebon,” ujarnya kepada awak media.

Disinggung mengenai penyalahgunaan kendaraan dinas yang dig anti nopolnya, Kapolres mengatakan, pengubahan plat merah menjadi hitam adalah sebuah pelanggaran, untuk itu pihak nya akan segera berkordinasi dengan pihak pemerintah daerah, untuk tidak mengubah plat merah menjadi plat hitam.

“Kecuali ada bebera instansi atau dinas yang boleh menggunakan nopol plat hitam, dengan adanya ijin dari Polres dan itu dilakukan untuk kepentingan tertentu,” tambahnya. (Adk/CNC)

SUMBER, (CNC).- Bos PT Smarta Techtex Jeong Killsung mangkir dari panggilan pihak kepolisian untuk dimintai keterangan terkait kasus perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukan warga Korea tersebut kepada mantan anak buahnya. Hal terebut disampaikan oleh Kapolres Cirebon AKBP Chiko Ardwiatto melalui Kasat Reskrim AKP Jarot Sungkowa saat dikonfirmasi, Selasa (30/9).

“Benar kami sudah menerima laporan dari korban, dan kami juga sudah melakukan penyidikan terhadap kasus tersebut,” ungkap Jarot.

Selain sudah memeriksa korban dan beberapa saksi, Jarot juga mengakui kalau pihaknya sudah melakukan pemanggilan terhadap yang diduga sebagai pelaku, namun hingga berita ini diturunkan bos PT Smart Techtex yang juga warga Negara Korea tersebut, belum memberikan keterangan kepada penyidik.

“Kami sudah melalukan pemanggilan kepada terduga pelaku, namun sampai saat ini belum datang, dan rencananya pada hari Rabu atau Kamis (1-2/10) kami akan melakukan pemanggilan kedua terhadap bos nya tersebut, kalau juga tidak datang maka sesuai dengan prosedur, kami akan melakukan pemanggilan hingga 3 kali, baru pada ke 4 kali kami akan melakukan pemanggilan paksa,” jelasnya.

Informasi yang berhasil dihimpun, kasus itu berawal saat Sai dan Ridwan yang sebelumnya bekerja di bagian produksi di perusahaan itu, dipindahtugaskan untuk angkat-angkat barang. Karena dianggap malas-malasan saat bekerja, bos perusahaan, Jeong Killsung yang mengetahui hal tersebut langsung menghukum keduanya dengan cara membenturkan kepala keduanya dengan keras.

Aksi itu kontan mendapat protes dari anak buahnya, namun dijawab santai sang bos bahwa hal itu merupakan hukuman yang biasa dilakukan di negaranya, Korea Selatan. (Adk/CNC)

GEGESIK, (CNC).- Keprihatinan terhadap sebagian masyarakat di Kabupaten Cirebon akibat sulitnya mendapatkan air bersih akibat kemarau panjang ini. Membuat Kepolisian Resort Cirebon terketuk hatinya untuk sedikit meringankan penderitaan mereka.

Pemberian bantuan air bersih itu di pimpin langsung Kapolres Cirebon, AKBP Chiko Ardwiatto bersama sejumlah jajaranya. Bantuan air bersih sebanyak 25.000 liter itu di saksikan langsung oleh Muspika Kecamatan Gegesik yang langsung di salurkan ke pada masyarakat di empat desa di kecamatan tersebut.

Keempat desa yang mendapat banatuan air bersih yakni Jagapura Kidul, Jagapura Lor, Jagapura Wetan dan Jagapura. Dalam kesempatan itu, Chiko Ardwiatto menyatakan hasil dari pemetaan kepolisian, empat desa tersebut menjadi salah satu yang terparah di Kabupaten Cirebon akibat musim kemarau tahun ini.

"Sampai saat ini hasil pantauan kami, khususnya untuk persawahan, mengalami kekeringan yang dahsyat. Bahkan untuk air bersih mereka sulit mendapatkannya," ujar dia, disela memberikan bantuan air bersih di lapangan Alun-alun Desa Jagapura Kecamatan Gegesik Kabupaten Cirebon, Rabu (30/9).

Menurut Chiko musibah kekeringan ini bukan hanya terjadi di Kabupaten Cirebon, melainkan di Kota Cirebon dan beberapa kabupaten kota di Jawa Barat. Di beberapa daerah bahkan masyarakat sulit mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Pemberian bantuan ini, ujar Chiko, merupakan bagian dari perlindungan dan pengayoman kepada masyarakat. Untuk itu pemberian bantuan ini tidak hanya dilakukan di Kecamatan Gegesik. Beberapa daerah lain di Kabupaten Cirebon masuk dalam pantauan kekeringan.

"Rencananya setelah di Gegesik bantuan air akan dilakukan di Desa Greged yang ada di Kecamatan Beber yang juga dilanda kekeringan dalam dua bulan terakhir ini," kata dia.

Total bantuan air yang diberikan, kata Chiko, sebanyak 50.000 liter. Dan diharapkan dengan adanya bantuan air bersih ini sekiranya bisa mengurangi beban penderitaan yang di alami masyarakat Kabupaten Cirebon.

"Itu dapat digunakan masyarakat untuk mandi, minum dan kebutuhan sehari-hari. Sehingga mereka akan tetap sehat bila mengonsumsi dan mandi air yang bersih," ujarnya.

Sementara itu, Camat Gegesik, Hermawan mengatakan kekeringan air ini rutin terjadi setiap tahun. Namun dalam satu bulan terakhir menjadi yang paling parah. Pasalnya air tanah tidak lagi dapat diandalkan untuk kebutuhan sehari-hari.

"Untuk mencukupi air cukup sulit. Kalaupun menggali, ke dalamannya mesti 25 meter. Sudah begitu belum tentu air yang keluar jernih karena air di sini asin. Mengingat dekat ke pantai," ujar dia.

Hermawan menuturkan bukan hanya air bersih yang dibutuhkan, namun juga air tanah untuk mengaliri sawah. Menurut dia sedikitnya ada 5.000 hektare sawah yang harus segera dibantu sebelum memasuki musim panen.

Dari 14 desa yang ada di Kecamatan Gegesik, 7 di antaranya mengalami kekeringan. Yakni Jagapura Kidul, Jagapura Lor, Jagapura Wetan, Jagapura, Kedung Dalem, Sibubut dan Selendra.

"Totalnya ada sekitar 2.300 yang sudah mengalami kekeringan. Sementara sisanya menunggu penanganan segera mengingat satu bulan lagi masuk musim panen," kata dia. (Enon/CNC)

SUMBER, (CNC).- Diduga menjadi pengedar uang palsu (upal), seorang oknum aparat pemerintah desa diamankan pihak kepolisian dari Polres Cirebon, beserta rekan dan juga barang bukti berupa beberapa lembar uang pecahan 100 ribu yang diduga palsu, Kamis (18/9) silam.

Informasi yang berhasil dihimpun dari pihak kepolisian menyebutkan, penangkapan Rimuklis (36) warga Dusun Sumur Bandung Rt 03 rw 05 Desa Cigobangwangi Kecamatan Pasaleman Kabupaten Cirebon dan juga Karba (38) Dusun Kramat Mulya Rt 03 Rw 04 Desa Cigobang Kecamatan Pasaleman Kabupaten Cirebon.

Berawal saat Rumuklis yang juga sebagai aparat desa setempat, membayar uang raskin kepada staf kecamatan yang bernama Nano. Oleh Nono uang tersebut kemudian di setorkan ke kantor Bulog Cirebon.

Diduga palsu, sedikitnya 3 lembar uang dengan pecahan Rp 100 ribu dikembalikan oleh Kantor Bulog Cirebon, kepada Nono. Nono yang merasa menerima uang tersebut dari Rimuklis, kemudian mengembalikan uang-uang tersebut kepada Rimuklas.

Setelah diberikan ke Rimuklis, dua lembar uang tersebut diberikan kepada Karba untuk dibelanjakan, rokok di warung dan uang kembaliannya diberikan kembali kepada Rimuklis. Rimuklis juga menukarkan uang Rp 100 ribu dengan pecahan Rp 50 ribu kepada Wasad.

Kapolres Cirebon AKBP Chiko Ardwiatto melalui Kasat Reskrim AKP Jorot Sungkowo melalui KBO IPDA Dudu Wawan membenarkan adanya penangkapan aparat Desa yang diduga menjadi pengedar uang palsu. “Dasar dari penangkapan itu adalah adanya laporan warga dengan no laporan, LP/590/A/IX/2014/JABAR/RES.CRB tanggal 19 September 2014, ” ungkap kepada awak media di Mapolres Cirebon, Selasa (23/9).

Modus operandi yang dilakukan oleh kedua pelaku ini menurut Dudu, adalah dengan mengedarkan dan membelanjakan uang ke salah satu warung rokok. Selain mengamankan dua orang pelaku tersebut, pihak kepolisian juga mengamankan beberapa lembar uang yang diduga palsu. “Kedua pelaku ini akan kami kenakan dengan pasal 245 KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun kurungan,” tambahnya. (Adk/CNC).

DEPOK, (CNC).- Dua pemuda diamankan pihak Polsek Depok, lantara diduga telah melakukan tindak pidana penusukan saat terjadi keributan di Desa Gombang Kecamatan Plumbon, Sabtu (20/9) malam. Kedua pemuda tersebut Ihsar alias Aung (22) wrga Desa Gombang Kecamatan Plumbon dan Nandi alias Kodok (25) warga Desa Pamijahan Kecamatan Plumbon.

Kapolres Cirebon AKBP Chiko Ardwiatto melalui Kapolsek Depok AKP Shobirin, mengatakan penangkapan dua orang tersangka pelaku penusukan tersebut berawal dari informasi warga yang melihat adanya keributan antara dua kelompok pemuda.

“Mendengar informasi tersebut kami langsung bergerak ke tempat kejadian, dan benar kami menemukan korban penikaman dan pada saat itu saya perintahkan kepada anggota untuk segera melakukan penangkapan dan pengejaran terhadap para pelaku,” ungkap Shobirin kepada awak media.

Dikatakan Shobirin, tidak kurang dari 3 jam setelah kejadian, pihaknya langsung mengamankan dua orang pelaku penikaman sedangkan tiga lainnya masih dalam pengejaran dan sudah masuk kedalam daftar pencarian orang (DPO). “Kronologis kejadianya sebenarnya hanya karena kesalahpahaman antara dua kelompok pemuda, yang mana, teman pelaku saat melintas tempat kejadian, dengan menggunakan dua sepeda motor dengan kondisi kenalpot bising, pada saat ditegur oleh kelompok pemuda yang kebetulan sedang nongkrong,” jelasnya.

Karena tidak terima temannya ditegur, dua orang tersangka beserta 3 orang lainnya, tutur Sobirin, langsung mendatangi kelompok pemuda yang nongkrong tersebut, dan keributan antara dua orang kelompok pemuda itu pun tidak bisa dihindarkan. “Pada saat kejadian kedua pelaku diakui dibawah pengaruh alkohol, dan kedua pelaku tersebut kita akan kenakan dengan pasal 170 KUHP dengan ancaman 7 tahun kurungan,” tambahnya.

Sementara itu, salah satu tersangka Nandi alias Kodok, membantah kalau dirinya sengaja membawa pisau dapur tersebut untuk menusuk korbannya yang bernama Sukarya (19) warga Desa Karangmulya Kecamatan Plumbon kabupaten Cirebon. “Saya bawa pisau hanya untuk berjaga-jaga saja, tidak sengaja biat nusuk orang,” dalihnya.

Dikatakan Kodok, pada saat kejadian dirinya diajak oleh Ihsar alias aung, untuk mendatangi orang yang sudah menghina rekannya yang berinisil R. “Awalnya R lewat daerah gombang, pada saat lewat diteriakin oleh pemuda yang sedang nongkrong dengan kata-kata kasar, setelah itu R melaporkan kepada aung, dan aung lapor kepada saya, dan kita berlima mendatangi pemuda yang nongkrong itu, dan akhirnya kejadian ribut,” katanya. (Adk/CNC)

Page 1 of 7